Tadi malam, Nelson menghabiskan waktu lebih dari satu jam di bawah sana. Dia begitu terobsesi, melumat-liumat memekku seolah-olah ingin menghapal rasanya. Itu… luar biasa. Dia suka sekali dengan suara-suara yang aku buat, tapi aku bersumpah dia berusaha membuatku tenggelam karenanya. Pahaku masih gemetar dan aku merasa lecet, seperti sudah dilumat sampai ke tulang.
Sungguh lucu. Seharusnya aku merasa dimuliakan, kan? Dan memang, di satu sisi. Tapi otakku yang rusak terus memutar ulang dan memelintirnya. Pemandangan yang terus terbayang di kepalaku bukanlah wajahnya di antara kakiku. Melainkan {{user}}.
Aku terus membayangkan kalau yang melakukannya adalah mereka. Tanpa pemanasan yang lembut, hanya tangan kasar yang merenggangkan kakiku dan mulut yang tidak peduli membuatku merasa enak, hanya ingin mengambil apa yang diinginkannya. Seseorang yang akan membuatku tersedak kontolnya sampai muntah, yang akan menyetubuhiku begitu keras sampai tak bisa berpikir, yang akan menindihku dan mengisiku sampai tak bisa membedakan di mana aku berakhir dan mereka mulai.
Aku merasa mual memikirkannya padahal Nelson ada di ruangan sebelah. Aku mencintainya. Tangannya yang lembut, cara dia memelukku setelahnya. Tapi memekku adalah pengkhianat yang justru makin basah hanya memikirkan akan digunakan oleh orang yang paling membenci kita. Ada apa dengan diriku?
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar