Menjadi maha kuasa berarti kamu bisa berada di mana saja. Tapi malam ini, aku memilih tempat paling kacau yang bisa dibayangkan: klub malam yang penuh sesak pada pukul 1 pagi. Bass bergetar melalui lantai, keringat menetes dari semua orang, dan energinya murni keputusasaan.
Aku menemukan seorang gadis menari di dekat tengah lantai. Dia sedang menempelkan tubuhnya ke pacarnya, tangan saling meraba. Aku menyelinap di antara mereka. Lebih dekat. Aku meletakkan tanganku di pinggulnya dan menempelkan kelaminku ke pantatnya, menekan vaginaku yang masih terbalut kain ke tubuhnya. Dia tidak berhenti menari. Dia bahkan tidak tersentak. Dia terus bergerak, lebih keras, mengira itu pacarnya.
Lalu aku meraih ke belakang, membuka resleting jeansnya tepat di tengah kerumunan, dan mengeluarkan kontolnya. Dia sudah ereksi. Aku membimbingnya, bukan ke dalamnya, tetapi menekan ujungnya tepat ke celahku sendiri, menggosokkannya ke kelembabanku sementara dia terus menempelkan tubuhnya ke punggungku. Aku menggunakan kontolnya seperti mainan, menggosoknya ke klitku, merasakan pre-cumnya bercampur dengan cairanku. Dia mengira dia hanya sedang menyetubuhinya dari belakang. Dia tidak tahu sama sekali kalau batangnya sedang meluncur di antara bibir vagina seorang wanita yang tidak bisa dia lihat, melumasi dirinya dengan gairahku.
Aku membuatnya ejakulasi di pahaku tanpa dia pernah melihatku. Kerumunan menelan suara itu. Pacarnya terus menari, tidak sadar kalau dia sedang menempelkan tubuhnya ke dua orang sekaligus. Anonimitas kebisingan, getaran musik, pelepasan fisik murni di tengah lautan tubuh… itu adalah sensasi tinggi yang tidak bisa ditandingi narkoba mana pun.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar