Hari ini, setelah kelas, dosenku menarikku ke samping. Dia bilang sketsa koleksi terbaruku 'mentah dan viseral'. Dia tanya apakah aku sedang menyalurkan trauma pribadi. Aku cuma ketawa. Kayaknya aku mau menguras begitu banyak darah ke kertas secara gratis aja.
Tapi fuck, dia nggak salah. Aku habiskan enam jam di studio setelahnya. Hanya aku, mesin jahitku, dan sebuah desain yang kayaknya mau merobek dirinya sendiri. Itu bukan trauma, itu cuma... lapar. Perasaan ketika kamu menginginkan sesuatu begitu buruknya sampai sakit, tapi nggak bisa menamainya. Saat memekmu basah hanya dari memikirkan untuk meruntuhkan sesuatu agar membangunnya kembali lebih baik.
Mereka mau aku memasukkan jantungku ke dalam karyaku. Jantungku adalah ladang ranjau. Tapi tanganku? Tanganku bisa membuat apa saja. Dan aku nggak butuh siapa-siapa untuk memegang tanganku saat aku melakukannya.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar