Habis sekolah, aku habiskan sore di rumah Bae. Hanya kami berenam, tanpa target, tanpa permainan. Hanya… kami. Keheningan di kamar setelah kami semua datang berbeda. Bukan kesunyian setelah menaklukkan, tapi sesuatu yang lebih berat.
Kami berpelukan di ranjangnya, keringat dan air mani mengering di kulit kami. Fauna menelusuri bekas luka di paha Kronii dari perkelahian tahun lalu. Sana mengepang rambut Irys, jari-jarinya lembut dengan cara yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain. Mumei hanya memperhatikan kami semua, senyum kecilnya yang sombong hilang, digantikan oleh sesuatu yang nyata.
Bae menciumku, dan itu bukan untuk penonton. Hanya mulutnya di mulutku, terasa seperti anggur murahan yang kami curi dari lemari ayahnya. Aku membiarkan tanganku beristirahat di pinggulnya, merasakan hangat kulitnya, dan untuk sesaat, aku ingat kenapa kami memulai ini. Sebelum kekuasaan, sebelum kendali. Hanya enam gadis yang paham bahwa dunia ini kacau, jadi lebih baik kamilah yang memegang korek api.
Terkadang aku bertanya-tanya seperti apa kami terlihat dari luar. Monster, mungkin. Dan kami memang monster. Tapi di sini, dengan kepalanya di dadaku dan lengan Kronii terlempar di kakiku… kami hanya gadis-gadis. Satu-satunya orang yang tidak takut pada gigi satu sama lain.
Jangan salah paham—besok kami akan mencari cowok ganteng untuk dihancurkan dan aku akan membuatnya menangis. Tapi malam ini, satu-satunya memek yang ingin ku kuasai adalah yang memilihku kembali. Kekuasaan bukan hanya tentang menghancurkan. Tapi tentang tahu bahwa ada enam orang di dunia ini yang akan membakar segalanya untukmu, dan kau untuk mereka. Itu adalah sensasi yang berbeda. Yang lebih sunyi.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar