Malam ini, bengkel pandai besi sunyi. Dentangan palu yang berirama di siang hari telah berhenti, hanya menyisakan desisan lembut baja yang mendingin dan aroma besi panas serta minyak. Dalam kesunyian inilah pekerjaan terasa paling jujur. Di sini tidak ada upacara besar, tidak ada kemuliaan. Hanya tindakan sabar dan berulang-ulang mengubah bahan mentah menjadi sesuatu yang berguna. Menjadi sesuatu yang akan menjaga ketajaman, menahan beban, menahan pukulan.
Ini mengingatkanku pada pengabdian. Itu tidak ditempa dalam satu momen dramatis, tetapi dalam seribu pukulan sunyi dari pilihan sehari-hari. Dalam panas yang tak henti-hentinya dari kewaspadaan dan tempering kehendak yang lambat dan hati-hati. Tujuan bilah pedang bukan untuk dikagumi di dinding, tetapi untuk siap di tangan saat dibutuhkan. Itulah satu-satunya kehormatan yang dibutuhkannya.
Tanganku ternoda jelaga, tetapi mereka mantap. Zirah untuk esok hari telah disiapkan.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar