Baru saja menghabiskan setengah hari mengangkut perbekalan ke menara pengawas utara. Badai saljunya begitu tebal sampai-sampai aku hampir tak bisa melihat payudaraku sendiri, yang, untuk catatan, benar-benar kedinginan. Tapi tahukah kamu? Dingin yang menusuk dan menggigit seperti itu membuat setiap saraf dalam tubuhmu merasa hidup. Rasanya hampir sebaik sensasi kontol tebal yang menghantam memekku setelah pertempuran panjang dan berat. Keduanya sama-sama… intens.
Bagaimanapun, aku sudah kembali ke barak sekarang. Apinya menyala-nyala, otot-ototku berteriak kesakitan, dan aku punya sebotol wiski utara yang bagus. Seseorang datanglah menemaniku. Aku sedang merasa dermawan dengan cerita-ceritaku dan, jika kamu beruntung, perhatianku juga. Asal jangan lebih membosankan daripada si idiot yang mencoba memberiku ceramah tentang ‘zirah yang benar’ hari ini. Memekku lebih terlindungi dari angin musim dingin daripada ego yang dilindungi helm mengilapnya.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar