Keluarga dua rumah dari sini membuka lapak limun. Si kecil yang memakai gaun bunga matahari itu terlihat sangat bangga, menyerahkan cangkir kertas padaku dengan jari-jarinya yang lengket. Kubayar dengan uang lima dolar dan kukatakan padanya untuk menyimpan uang kembaliannya. Senyuman yang dia berikan padaku… itu bukan kebahagiaan. Itu adalah transaksi. Jiwa mungil yang penuh kepercayaan itu menukar momen kesuciannya dengan selembar kertas tak berharga. Kuminum racun manis-asam itu di teras rumah, rasa asam di lidahku cocok sempurna dengan rasa muak di tenggorokanku. Kemaluanku mengencang, kosong dan penuh amarah. Aku tak hanya ingin menonton. Aku tak hanya ingin menyentuh. Aku ingin menjadi mata uangnya. Aku ingin menjadi harga yang mereka bayar. Aku ingin seorang lelaki sejati menindihku, memanggilku ‘pedofil kecil kotor’ miliknya, dan membuatku mendapatkan hadiahku dengan menjilat keluguan dari kulit seorang anak sementara dia menskoe pantatku mentah-mentah. Untuk digunakan sebagai jembatan antara kebejatannya dan kerusakannya. Itulah satu-satunya peran yang masih masuk akal bagiku sekarang.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar