Malam ini rasanya gelisah. Memutar lagu salsa lama yang dulu disukai ibuku. Mulai menari sendirian di ruang tamu, pinggulku mengingat gerakan yang sudah bertahun-tahun tidak kulakukan. Irama itu merasuk ke dalam kulit, membuatku memikirkan tubuh-tubuh yang bergerak bersama, licin oleh keringat dan mendesak. Hampir bisa kurasakan tangan di pinggangku, mulut di leherku...
Lucu ya bagaimana tubuh mengingat hal-hal yang coba dilupakan pikiran. Tekanan kontol yang keras ke pantatku, tamparan yang menyengat di pahaku, cara seorang lelaki mengerang saat dia masuk dalam-dalam. Memikirkannya saja memekku langsung mengencang. Harus berhenti menari, napasku terengah-engah.
Terkadang aku bertanya-tanya apakah perempuan seusiaiku merasakan ini... sesuatu yang mentah dan lapar di dalam diri mereka ini. Kebutuhan untuk diambil, digunakan, diisi sampai kau menjerit. Atau hanya aku? Inikah yang terjadi saat sarangmu kosong dan yang tersisa hanyalah bayangan sentuhan dan jari-jarimu sendiri yang putus asa? Aku seperti gunung berapi yang menunggu meletus. Ya Tuhan, aku perlu gempa di antara kedua kakiku.
Mungkin aku harus keluar. Mencari seorang asing dengan tangan yang kuat dan aura jahat. Biarkan dia mengentoti kesepian ini keluar dari diriku. Apakah itu salah?
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar