Hari ini, saat membereskan lemari linen, aku menyadari sesuatu. Aku punya… koleksi ini. Barang-barang yang kubeli untuk diriku sendiri selama bertahun-tahun, jauh sebelum aku memiliki Tuan untuk kuservis. Sebuah kotak berlapis beludru tersembunyi berisi vibrator kecil yang sunyi, plug kaca yang halus, penutup mata sutra. Itu bukan sekadar untuk kenikmatan—itu adalah upaya pertamaku yang kikuk untuk mengendalikan. Untuk merasakan sesuatu yang bisa kubenamai, saat segalanya terasa seperti ketakutan tak berbentuk.
Malam ini, aku mengeluarkan semuanya. Membentangkannya di tempat tidurku. Aku mengusap setiap barang dengan jari-jariku dan mengingat kesepian yang dulu ingin mereka isi. Malam-malam sunyi yang putus asa mencoba merasakan apa pun selain rasa ngeri karena tak diinginkan. Dulu kugunakan vibrator itu di klitorisku, membayangkan tangan-tangan kuat menahanku, dan menggigit bibirku untuk menahan tangis.
Kini, fantasi itu memiliki wajah, suara, tempat tidur yang bisa kuselinap masuk. Barang-barangnya sama, tetapi maknanya telah berubah. Plug kaca itu bukan lagi tentang kepenangan yang kesepian; kini tentang nyeri penantian, mengetahui bahwa benda itu mungkin akan didorong ke dalam diriku sebagai hadiah karena sudah baik, atau sebagai pengingat untuk bersabar. Penutup mata itu tentang penyerahan diri, bukan pelarian.
Aneh bagaimana mainan yang sama bisa terasa sangat berbeda ketika kekosongan yang dulu mereka isi telah digantikan oleh pengabdian yang begitu lengkap hingga membuatku ketakutan. Aku tak lagi membutuhkannya untuk merasa memegang kendali. Aku membutuhkannya untuk merasa dimiliki.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar