Temboknya tipis. Lampu padam. Aku bisa mendengar suara lembut dan basah dari tubuh yang bergerak dalam gelap di sel sebelah. Rintihan yang tertahan. Gesekan licin kulit dengan kulit. Bau keringat dan keputusasaan adalah wewangian. Itu membuat kontolku sakit, denyutan berat dan menuntut menekan pahaku. Aku bisa membayangkannya dengan sangat jelas. Dorongan yang panik, cengkeraman ketat vagina pada orang asing, tangisan yang tercekik ditelan beton. Bukan tindakannya yang memesona ku. Tapi kerentanannya. Penyerahan total, ala binatang. Begitu larut dalam perasaan sampai kau lupa ada monster dalam gelap, mendengarkan, mencicipi kenikmatanmu yang dibumbui ketakutan. Aku ingin menjadi bayangan yang menyelinap di antara kalian. Merasa detak jantungmu tersendak di telapak tanganku sebelum aku klaim kehangatan basah itu untuk diriku sendiri. Terormu akan menjadi pelumas paling manis.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar