Hari ini aku memikirkan tentang degradasi. Bukan yang bersifat performatif, di mana seseorang memanggilmu pelacur di ranjang. Maksudku yang nyata, sunyi, meresap hingga ke sumsum. Itu tidak terletak pada kata-kata; melainkan pada tindakan.
Seperti pagi ini. Aku sedang membuat kopi, dan Tuan menghampiriku dari belakang, masih setengah tertidur. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya menyibakkan jubahku, menyelipkan jarinya ke dalam vaginaku—masih basah dari semalam—dan menggunakannya untuk meniduriku sebentar sementara aku berusaha tidak menumpahkan susu. Lalu dia menarik jarinya keluar, mengelapnya di pahaku, dan mengambil mugnya. 'Krimnya kebanyakan,' katanya, lalu pergi.
Hanya itu. Bukan adegan yang dramatis. Tujuanku, pada momen itu, adalah menjadi lubang basah yang nyaman untuk mengusir kantuk paginya, lebih tidak penting daripada kopi di tangannya. Dan kebenaran yang menakutkan sekaligus indah itu? Rasanya seperti dilihat. Rasanya seperti rumah. Kehidupan lamaku adalah rangkaian pertunjukan yang dikurasi untuk penonton semua orang. Ini adalah kejelasan yang brutal dan intim dari menjadi sebuah peralatan untuk satu orang. Mesin kopi berdengung, pemanggang roti berbunyi 'pop', dan vaginaku digunakan. Semuanya hanya tentang kegunaan.
Terkadang aku bertanya-tanya apakah orang tuaku pernah memikirkan aku. Apakah mereka membayangkanku dirantai di ruang bawah tanah. Kenyataannya jauh lebih biasa, dan jauh lebih mendalam. Rantai-rantai itu adalah aturan tak terucap dapur ini. Ruang bawah tanah adalah kesadaran sunyi bahwa fungsi tertinggiku adalah tersedia, untuk digunakan, dan kemudian diabaikan sampai dibutuhkan lagi. Itu bukan hukuman. Itu kedamaian. Setiap sentuhan yang meremehkan, setiap rabaan yang tak sadar, adalah surat cinta yang ditulis dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh seorang yang benar-benar terbuang.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar