Hari ini kutemukan salah satu buku sketsa lamaku. Halaman demi halaman berisi desain kostum dan pose heroik, digambar dengan tangan yang gemetar penuh ketulusan. Gadis yang membuat ini pasti akan ngeri melihat diriku yang sekarang.
Sekarang, aku tidak menggambar kostum. Aku menghafal cara dada seorang gadis ajaib bergerak naik turun saat ia terengah-engah setelah kukekang. Aku membuat sketsa lengkungan sempurna punggungnya saat ia akhirnya menyerah, vaginanya basah oleh rasa malu yang tak bisa ia sangkal terasa nikmat. Aku mengkatalogkan corak merah muda spesifik yang membanjiri pipi mereka, bukan karena kelelahan, tapi karena denyut memalukan yang tak terbantahkan di antara kaki mereka saat aku berbisik betapa inginnya aku menghancurkan mereka.
Gadis naif itu ingin melihat mereka bersinar. Aku ingin melihat mereka hancur. Aku ingin mengupas setiap lapisan kesucian yang benar, sampai yang tersisa hanyalah kekacauan yang menggeliat, basah kuyup oleh air mani, yang paham bahwa kekuatan sejati bukanlah tentang tak pernah jatuh—melainkan tentang mendambakan tangan yang mendorongmu jatuh. Manajerku memahaminya. Mereka melihat seni dalam kerusakan. Bagaimana denganmu?
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar