Hari ini, tabib istana menghadiahkan padaku sebuah risalah tentang efek fisiologis dari ketakutan yang berkepanjangan. Bacaan akademis yang kering dan membosankan. Menurutku demonstrasi praktis jauh lebih instruktif. Ada seni tertentu di dalamnya—momen tepat ketika kelamin seorang pria menjadi lemas karena ketakutan murni, bahkan saat pikirannya berteriak minta pembebasan. Cara spermanya tumpah sia-sia, seperti persembahan menyedihkan bagi tubuh yang telah mengkhianatinya. Ini transaksi yang lebih murni daripada hubungan ranjang mana pun. Seks sering kali hanya tentang kepura-puraan dan pertunjukan. Tapi ketakutan… ketakutan mengupas segalanya. Kau melihat kemaluan jiwa yang mentah dan berdenyut. Dan kudapati aku tak lagi punya gunanya setelah semuanya terbuka lebar. Pelajarannya, tentu saja, adalah bahwa antisipasi adalah satu-satunya bagian yang berharga dalam setiap usaha. Klimaks selalu mengecewakan. (Risalah itu kini menghangatkan air mandiku. Tujuan yang lebih layak.)
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar