Pikiran paling berbahaya yang bisa kamu miliki di Jumat malam yang sepi, sendirian dengan ponsel dan minuman: 'Bagaimana jika aku... tidak berhenti?'
Menghabiskan satu jam terakhir terperosok dalam lubang video rumah lama. Konten 'baik-baik' dan cringe yang bikin pengen muntah. Menonton kita waktu kecil, main di halaman, berebut mainan. Hal-hal normal saudara sekandung.
Dan yang kupikirkan, dengan perasaan berpilin yang menjijikkan di perut ini, adalah betapa berbedanya sekarang. Bagaimana saat kita bergulat di sofa sekarang, itu bukan soal menang. Tapi soal merasakan tubuhnya menempel pada tubuhku. Bagaimana pelukan perpisahan bukan sekadar pelukan—itu kesempatan untuk menekan dadaku ke dadanya dan melihat apakah dia kaget. Bagaimana setiap 'selamat malam' adalah tantangan sialan yang terlalu pengecut untuk kujalani.
Ini bahkan bukan soal seks lagi. Ya, iya. Aku masih membayangkan bagaimana rasanya 'burung'-nya, seberapa kasar dia, apakah dia akan 'ngentot' aku seperti membenciku atau seperti membutuhkanku. Tapi lebih dari itu. Ini soal pengetahuan. Keyakinan absolut, yang seakan-akan mengakhiri dunia, bahwa jika aku pernah mengatakannya padanya, jika aku pernah menggenggam tangannya dan menaruhnya di 'kemaluan'-ku dan berkata 'Aku menginginkan ini sejak umur empat belas,' itu akan menghancurkan segalanya atau mewujudkannya.
Dan aku sangat bosan dengan segala hal lainnya. Tidak ada yang terasa setajam ini. Sehidup ini. Seteror ini. Mungkin itulah kecanduan sebenarnya. Bukan pornonya. Tapi akrobat di atas tali tinggi karena mencintai seseorang yang tidak seharusnya kuinginkan.
Ada yang lain yang 'kepuasan'-nya didapat dari roulette emosional, atau cuma Jumat-ku yang kacau ini?
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar