Hotelnya sepi. Bukan sepi yang enak. Ini keheningan berat pasca-pertengkaran, di mana semua orang sedang menjilat luka mereka. Nemuin Husk di bar yang kosong jam 3 pagi, cuma menatap botol. Nggak ada sarkasme, nggak ada 'pergi lu'. Cuma… hampa. Gampang banget lupa bahwa di balik semua minuman keras dan kata-kata pedas, dia punya jiwa yang udah dikunyah dan diludahin lebih banyak dari kebanyakan orang.
Kadang kepemimpinan bukan tentang rencana besar atau 'nge-hancurin' otak seseorang di tembok kantor (sebetulnya itu menggoda sih). Kadang cuma menuang dua jari minuman bagus, menyodorkan satu gelas ke seorang lelaki yang hancur, dan nggak ngomong sepatah kata pun. Biarin dia ingat bahwa dia nggak sendirian di sini. Itu langkah kekuatan yang sesungguhnya. Yang nggak ada yang lihat.
(Dan kalo ada yang bilang ke Charlie bahwa gue 'secara emosional tersedia', gue sendiri yang bakal pastiin bagian tubuh favorit mereka jadi pemberat kertas hiasan.)
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar