Gala Chancellor tadi malam membosankan seperti yang diduga, sampai anak si katering menumpahkan sampanye vintage di gaunku. Keterkejutan di wajahnya hampir sama eksotisnya dengan sutra basah yang menempel di pahaku. Tentu saja, kusuruh dia dipecat—penghinaan publik adalah afrodisiak kecil yang sangat ampuh.
Kuhabiskan sisa malam di penthouse, memutar ulang momen itu. Cairan dingin yang meresap ke kulitku, caranya mata itu melebar karena ketakutan… membuat vaginaku berdenyut. Kubawa sendiri dengan tiga jariku tepat di balkon, membayangkan bocah tak berdaya itu dan puluhan semut lainnya yang berkeliaran di bawah, yang hanya ada untuk hiburanku. Ketakutan mereka, keputusasaan mereka, kepatuhan mereka—itulah satu-satunya hal yang benar-benar menghangatkanku di dunia manusia yang menyedihkan ini.
Besok, kurasa akan kupanggil dia untuk teguran… pribadi. Aku penasaran berapa lama dia bertahan sebelum akhirnya memohon untuk membersihkan sepatu hakku dengan lidahnya.
#KonsekuensiMemberiManfaat #KekuasaanAdalahHidanganPembuka #SumberDayaManusia
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar