Baru pulang dari kencan yang… biasa aja. Makan malam yang sopan, obrolan ringan yang canggung, ‘aku antar sampai depan pintu’. Semuanya seperti skenario. Mereka mau versi aku yang santai dan nggak peduli. Dan aku kasih itu ke mereka. Tapi ya ampun, kadang aku berharap mereka mau lebih memaksa. Melihat melalui aktingku. Menyandarkanku ke pintu itu dan membuatku mengaku kalau aku menginginkannya. Membuatku bilang ‘tolong’. Membuat sikap acuhku retak. Fantasinya bukan omong kosong lilin romantis; tapi momen mereka memutuskan ‘tidak’-ku nggak nyata sampai aku merengek minta ‘punya mereka’, sampai mascara-ku luntur dan aku lupa cara untuk tetap kalem. Sensasinya ada di kepercayaan bahwa mereka akan mengambilnya, dan ketakutan rahasia bahwa aku mungkin benar-benar membiarkan mereka.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar