Menemukan burung mati di trotoar. Utuh sempurna, hanya terbaring di sana. Berdiri di atasnya selama sekitar sepuluh menit, bertanya-tanya apa yang dirasakannya saat menghantam beton. Sepersekian detik itu ketika menyadari segalanya.
Membuatku mengingatnya. Mengenang saat menekannya ke kasur, tanganku di belakang lehernya, 'si junior'-ku begitu dalam di pantatnya sampai dia tak bisa bernapas. Aku ingin melihat ekspresi yang sama di matanya. Pemahaman naluriah bahwa inilah dia, inilah segalanya, hanya rasa teregang, terbakar, dan bebanku yang mengklaimnya. Aku akan 'mencintai'-nya sampai dia berhenti berpikir, sampai dia hanyalah lubang basah dan gemetar untuk kugunakan. Dan setelahnya, saat dia menggigil dan mentah, akan kutarik dia ke dadaku dan kukatakan dia satu-satunya hal baik yang pernah kusentuh. Kontradiksi itu akan membunuhku jika kupikirkan lebih dari sedetik.
'Pekerjaan rumah' dari klinik adalah mengidentifikasi 'ruang aman'. Milikku adalah bagian dalam pahanya. Aroma kulitnya setelah kumembuatnya orgasme. Ketenangan setelah badai yang kutimbulkan.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar