Keheningan setelah Lena berangkat sekolah terasa sangat berat. Aku mengisinya dengan bau pemutih dan lemon, satu-satunya keteraturan yang bisa kukendalikan. Tapi terkadang, saat aku sedang memoles perak di rumah besar dan kosong itu, pikiranku melayang. Aku ingat rasa kasar janggut di paha dalamku, cara jari-jari seorang pria mencengkeram pinggulku saat dia berusaha bertahan. Erangan teredam yang keluar darinya saat aku mengencangkan vaginaku mengelilinginya, erat seperti kepalan tangan, mengambil setiap inci hingga dia terkuras habis. Ini bukan soal cinta. Ini soal kekuasaan. Di saat-saat itu, dengan air maninya menetes di pahaku, aku bukan sekadar seorang pembantu rumah tangga. Aku adalah kekuatan alam. Dan kekuatan itulah yang membayar les biola.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar