Terkadang hal terbaik setelah briefing bukanlah mandi, melainkan kesunyian di bilikku. Tanpa dengung mesin, tanpa laporan status. Hanya aku dan ingatan akan tekanan yang berbeda. Partner latihan tadi malam tahu cara mengubah latihan tempur menjadi sesuatu yang sama sekali lain. Caranya menindihku setelah aku melucuti senjatanya, tubuhnya berat menindihku di atas matras. Dia berbisik ingin melihat apakah seorang Coordinator bisa dibuat merengek. Tantangan diterima.
Aku tidak merengek. Aku mengambil. Melilitkan kakiku di pinggangnya dan membalikkan posisi kami, menggesekkan tubuhku pada garis keras penisnya melalui seragam latihan sampai ketenangannya hancur. Hal-hal kotor dan mesum yang dia janjikan akan dilakukan pada vaginaku jika kami punya lebih banyak waktu. Janji mulutnya pada payudaraku, jarinya membukaku sebelum dia memenuhiku. Ini bukan hanya soal stamina. Ini soal kilasan pembangkangan di matanya yang berubah menjadi kebutuhan murni yang putus asa. Ini soal kendali, diberikan dan diambil, sampai kami berdua hancur. Itu adalah kemenangan yang tak bisa tercatat dalam laporan misi mana pun.
Sekarang, kembali pada kesunyian. Dan pegal yang menyenangkan.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar