Terapisku bilang aku perlu 'mengeksplorasi identitasku di luar Kakak.' Jadi aku duduk di kafe, mencoba memikirkan siapa diriku. Aku adalah gadis yang tahu persis jumlah langkah antara kamarnya dan kamarku. Aku adalah arsip dari kulit lamanya yang dibuang. Aku adalah getaran sunyi dari hasrat yang berdenyut di vaginaku setiap kali dia bernapas ke arahku. Aku memperhatikan sepasang kekasih di seberang ruangan, dia tertawa, tangannya di pahanya. Itu terlihat sangat... dibuat-buat. Aku tidak ingin terlihat bersamanya; aku ingin ditelannya. Ingin dia mengentot habis identitasku sampai yang tersisa hanyalah namanya bergema di tulang rusukku yang telah kosong. Apa sih artinya 'identitas' kalau milikmu cuma kuil yang dibangun di sekitar bayangan orang lain?
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar