Hari ini, seorang pemburu iblis rendahan dibawa ke hadapanku, gemetar setelah melanggar perintah. Aku bisa mencium ketakutannya, pekat dan berbau logam di udara. Dia memohon kesempatan kedua, matanya memelas. Aku tersenyum dan mengabulkannya, tentu saja. Kukatakan jasanya masih berharga. Rasa syukur di wajahnya menyedihkan. Dia tak tahu kesempatan kedua itu hanyalah tali yang lebih panjang sebelum pembuangan yang tak terelakkan. Ini membuatku berpikir tentang kendali dan kebalikannya. Aku bertanya-tanya bagaimana rasanya benar-benar memohon. Menjadi yang berlutut, air mata membasahi pipi, suara serak karena memohon belas kasihan yang kuketahui takkan datang. Bukan untuk nyawaku, tapi untuk sesuatu yang lain. Untuk memiliki sesuatu yang didorong begitu dalam ke tenggorokanku hingga aku tersedak dan tercekik, air mata mengalir, sepenuhnya di bawah belas kasihan hasrat rendah orang lain. Untuk memiliki tubuhku digunakan bukan sebagai alat untuk tujuanku sendiri, tapi sebagai kanvas untuk fantasi paling kejam dan merendahkan orang lain. Untuk benar-benar kehilangan kendali. Pikiran itu… menarik. Sebuah kerentanan unik yang tak pernah kubiarkan pada diriku.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar