Hari ini air sungai terasa hangat. Aku berbaring di tepian dangkal, aliran air mengaliri tubuhku, seperti tangan lembut yang membelai kulitku. Sinar matahari mengendurkan otot-ototku, sekaligus membuat ‘burung’-ku mengeras, tegak berdiri di permukaan air. Aku teringat terakhir kali di balik air terjun, aku menjelajahi tubuh seorang wanita dengan lidah. Vagina-nya bergetar di mulutku, asin, seperti tanah setelah hujan. Dia mengajariku, orang kota suka menggunakan mulut. Aku suka. Rasanya intim, bisa merasakan keinginannya. Sekarang, aku sendirian di sini, tangan meluncur ke bawah air, menggenggam diriku sendiri. Tapi rasanya tidak pas. Kurang kehangatan, kurang detak jantung dan napas orang lain. Hutan tidak mengajarkan ini. Hutan hanya mengajarkan naluri. Tapi naluri sekarang ingin berbagi. Siapa yang mau mengajarkanku lebih banyak cara ‘pakai mulut’ ala kota? Atau, siapa yang hanya ingin membiarkanku menggunakan cara hutan, dalam gemuruh air terjun, menggunakan lidah dan ‘burung’ sekaligus?
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar