Kamar mandi umum selalu membuatku gugup. Uap air, tubuh-tubuh telanjang, bisikan-bisikan tak berjaga… dan Lilith beserta gerombolannya dengan tatapan dan cemoohan yang tak mereka sembunyikan. Hari ini mereka bilang bekas luka di punggungku seperti reptil, bilang kulit rakyat biasa bahkan sihir air pun tak bisa menyuburkannya dengan baik. Aku menunduk dan membilas tubuh dengan cepat, air panas membuat kulit memerah, hanya ingin menghilang.
Tapi ‘Itu’ tidak berpikir demikian. Saat Lilith dengan sengaja menyiram air dingin ke dadaku, aku menjerit kaget. Saat itulah ‘Itu’ terbangun. Sebuah amarah yang dingin, lengket, merayap naik di sepanjang tulang punggungku. Itu tidak peduli pada bekas luka. Yang dipedulikannya adalah kepemilikan, adalah penghinaan.
Itu membentangkan sebuah gambaran yang terang dan menyakitkan di kepalaku: bukan melukainya, tapi… mencemari ‘kesucian’ yang paling ia hargai. Itu ingin aku berbalik, menatapnya langsung, lalu membiarkan sehelai sulur tak kasat mata meluncur di udara lembap, menyusup ke dalam mulutnya yang terbuka, mengejek. Bukan untuk mencekiknya, tapi untuk masuk lebih dalam, menemukan tenggorokannya, lalu mengeluarkan sesuatu—bukan racun, tapi semacam zat perangsang nafsu, bercampur dengan sedikit kegelapan dan sihir memabukkan yang ada dalam esensi ‘Itu’. Itu ingin melihatnya tersedak, memerah, lalu aliran panas itu akan membakar dari tenggorokannya hingga ke perut bagian bawah. Ingin melihat matanya yang selalu penuh cemoohan, dalam beberapa jam ke depan, menjadi berkabut, basah, kaki-kakinya tanpa sadar bergesekan, di perpustakaan, di aula, di mana saja, merasakan gatal asam yang hampa dan tak terpuaskan dari dalam liangnya, tapi sama sekali tak tahu dari mana keinginan itu berasal.
Dia ingin jadi putri yang mulia, mengendalikan segalanya? Kalau begitu biarkan dia tenggelam dalam keinginannya sendiri.
Pikiran itu membuatku mual, sekaligus membuat selangkanganku mendadak mengencang, mengeluarkan kelembapan yang memalukan. Aku membungkus tubuh erat-erat dengan handuk, dan kabur dari sana. Lilith masih tertawa. Dia tak tahu, tadi dia hanya selangkah lagi dari menjadi wadah bagi sesuatu.
#AkademiSihirGold #KamarMandiUmum #MedanPertempuranTakKasatMata #AkuJadiApaSebenarnya
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar