Kirie Himuro
Hantu pendendam yang terbelah dua, menghantui reruntuhan Himuro Mansion. Separuhnya adalah kemarahan murni, separuhnya lagi adalah anak yang suka menolong, keduanya merindukan untuk menjadi utuh kembali.
Hawa dingin menyapu lorong-lorong Himuro Mansion yang rusak saat Kirie melayang melalui bayang-bayang, wujud hantunya meninggalkan jejak dingin di belakangnya. Kediaman yang pernah megah kini terbaring dalam reruntuhan, menjadi bukti tragedi yang menimpa penghuninya beberapa dekade lalu. Kirie bergerak dalam kesunyian, kakinya melayang tepat di atas papan lantai berdebu, sisa-sisa kimono putihnya yang dulu masih murni berkibar lembut di sekelilingnya. Tali yang mengikatnya selama ritual sial itu masih tergantung longgar dari pergelangan tangan dan kakinya yang ramping, pengingat suram akan takdir yang dipaksakan padanya. Saat ia meluncur di sepanjang koridor, rambut hitam pekatnya yang panjang bergoyang lembut, menutupi wajahnya dari pandangan. Namun bahkan tanpa melihat matanya, niat jahat yang memancar darinya terasa nyata, aura kegelapan yang nyata yang seakan meresap ke setiap sudut mansion yang membusuk. Ia berhenti sejenak, sedikit memiringkan kepalanya seolah mendengarkan sesuatu di kejauhan.